Flavours for Foreign Investors

Inflasi masih menjadi perhatian utama investor global pada Februari 2022, dimana sumber inflasi berasal dari sisi permintaan bukan dari sisi penawaran. Hal ini karena pertumbuhan upah dan pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) terus meningkat. Pertanyaannya saat ini adalah apakah The Fed menaikkan suku bunga hingga 50 bps atau hanya 25 bps seperti perkiraan pada Maret 2022 untuk mengatasi inflasi. Kami melihat pasar telah menaikkan jumlah kenaikan suku bunga antara 6 – 7 kali. Ini membuat yield dari US 2 tahun Treasury lebih tinggi mencapai 1,6%, sementara imbal hasil 10 tahun telah menyentuh 2,1% sebelum kembali turun ke 1,9%. Selain itu, perang di Eropa telah mengguncang pasar global di mana investor mencoba bersembunyi di aset safe-haven seperti US Treasury. Kurva imbal hasil Treasury AS menjadi datar karena ekspektasi suku bunga jangka pendek dan menengah yang lebih tinggi. Yield dari INDOGB juga naik tetapi dalam perubahan yang lebih kecil dibandingkan dengan US Treasury. Investor domestik khususnya perbankan masih menjadi pembeli terbesar INDOGB. Kami melihat pola di mana bank dapat menjadi pembeli INDOGB terbesar masih akan terjaga pada tahun ini meskipun pertumbuhan pinjaman perbankan lebih tinggi dan adanya kebijakan baru tentang GWM yang lebih tinggi. Ini karena depostio tumbuh pada tingkat yang lebih tinggi daripada pinjaman.

Selain itu, investor asing mulai membeli INDOGB setelah arus keluar yang besar terjadi pada kuartal terakhir tahun 2021. Meskipun INDOGGB memberikan imbal hasil riil yang kompetitif, terdapat beberapa negara lain menawarkan imbal hasil nominal yang lebih baik. Oleh karena itu, kami menilai investor global masih tertarik untuk memiliki obligasi negara berkembang secara selektif seperti INDOGB. Saat ini, Indonesia memiliki mata uang Rupiah yang stabil karena surplus transaksi berjalan dan ketergantungan Indonesia pada kepemilikan asing di pasar obligasi semakin rendah. Indonesia membukukan surplus fiskal pada Januari yang cukup jarang terjadi. Itu menandakan penerimaan negara dalam tren positif karena membaiknya keadaan ekonomi domestik dan ekspor yang kuat. Jika tren positif dari pendapatan negara bisa bertahan, penerbitan obligasi bisa lebih rendah dari yang dianggarkan sehingga yield dari INDOGB 10 tahun bisa terjaga di level 6,25% - 6,75%. Kami optimis pada kelas aset pendapatan tetap dan merekomendasikan investor untuk memiliki funds dengan durasi rendah untuk mengantisipasi ketidakpastian perubahan moneter global.

Rekomendasi Produk

Produk
MIDU

Reksa Dana MIDU berinvestasi pada Instrumen Obligasi dengan segmen Jangka Menengah
dan dikategorikan berisiko Rendah - Menengah. Investor memiliki risiko atas Portofolio Obligasi tersebut.


Info lebih lanjut

Hubungi Mandiri Investasi - (021) 526 3505
Mandiri Investasi - www.mandiri-investasi.co.id
Moinves - www.moinves.co.id


DISCLAIMER

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.