Likely Lesser Issuances

Dua bank sentral mengambil langkah besar dalam kebijakan moneter pada Juni 2023. Bank Sentral AS menghentikan kenaikan suku bunga pada pertemuan Juni 2023 setelah menaikkan 5% terus menerus sejak Maret 2022 di setiap pertemuan. Suku bunga Fed bertahan di 5,25%, sama dengan pertemuan sebelumnya pada Mei 2023. Sementara itu, China Central Bank, PBOC, memangkas 10 bps the loan prime rate 1 tahun dan 5 tahun masing-masing menjadi 3,6% dan 4,2%, untuk pertama kali sejak Agustus 2022. Perubahan moneter dari dua negara besar terjadi karena perkembangan situasi ekonomi di masing-masing negara. Perekonomian AS mungkin sedang menuju soft landing dengan bayangan resesi, sementara perekonomian China membutuhkan lebih banyak stimulus untuk menghangatkan mesin pertumbuhan yang masih lebih lambat dari perkiraan. Melihat perspektif global, kebijakan moneter memberikan ruang bagi perekonomian untuk tetap bergerak naik. Begitu juga dengan Bank Indonesia yang menahan suku bunga kebijakan di 5,75% sejak Januari 2023. Dengan inflasi yang terus menurun (inflasi Juni 2023 di 3,5% vs inflasi Mei 2023 di 4%) dan nilai tukar Rupiah yang bergerak stabil, kami melihat Bank Indonesia kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga lagi pada tahun ini.

Hingga akhir Mei 2023, anggaran fiskal mencatatkan surplus sebesar Rp 204,3 triliun atau 0,97% PDB (vs 5M22 sebesar Rp 132,0 triliun atau 0,67% PDB). Penerimaan negara sudah mencapai 49% dari target anggaran, sedangkan belanja hanya 33%. Meskipun harga komoditas menurun dan prospek pertumbuhan global melambat, penerimaan pemerintah masih meningkat sebesar 13% yoy dan realisasi belanja pemerintah juga meningkat sebesar 7% yoy. Terdapat kemungkinan defisit anggaran mencapai kurang dari2% dari PDB meskipun APBN telah mengalokasikan defisit sebesar 2,8% dari PDB pada tahun 2023. Oleh karena itu, terdapat pula potensi penurunan target penerbitan obligasi pada semester kedua tahun 2023. Hal tersebut medorong yield dari IndoGb terus bertahan pada kisaran di bawah 6,5% selama bulan Juni 2023.

Rekomendasi Produk

Produk
MIDU

Reksa Dana MIDU berinvestasi pada Instrumen Obligasi dengan segmen Jangka Menengah dan dikategorikan berisiko rendah - menengah.
Investor memiliki risiko atas Portofolio Obligasi tersebut.

IDAMAN

Reksa Dana IDAMAN berinvestasi pada Obligasi Pemerintah Indonesia USD dengan durasi pendek dan dikategorikan berisiko menengah.
Investor memiliki risiko atas Portofolio Obligasi tersebut.

MIDO2

Reksa Dana MIDO2 berinvestasi pada Obligasi Pemerintah Indonesia Rupiah dengan durasi panjang dan dikategorikan berisiko tinggi.
Investor memiliki risiko atas Portofolio Obligasi tersebut.


Info Lebih Lanjut

Hubungi Mandiri Investasi - (021) 526 3505
Whatsapp Mandiri Investasi - 0816 86 0003
Email Mandiri Investasi - [email protected]
Mandiri Investasi - www.mandiri-investasi.co.id
Moinves - www.moinves.co.id


DISCLAIMER

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.