Paused Hike (Global Equity Market)

Bank Sentral AS, The Fed, menghentikan kenaikan suku bunga untuk pertama kalinya dalam pertemuan FOMC bulan Juni. Suku bunga acuan bertahan di 5,25% pada Juni 2023, sama seperti bulan sebelumnya. The Fed terus menaikkan the Fed rate sejak Maret 2022 setiap kali dalam 10 pertemuannya. Setiap kenaikan suku bunga bervariasi mulai dari 25, 50 dan hingga 75 bps. Pada perubahan policy rate kali ini cukup besar dari yang terendah di 0,25% pada awal 2022 menjadi 5,25% pada saat ini, melampaui puncak siklus kenaikan sebelumnya di 2,5% pada tahun 2019. Pasar telah memperkirakan bahwa suku bunga saat ini hampir mencapai puncaknya dan Fed baru dapat menurunkan suku bunga di tahun 2024. Selain The Fed, China Central Bank PBOC juga mengubah suku bunga kebijakannya dengan menurunkan 10 bps loan prime rate 1 tahun dan 5 tahun masing-masing menjadi 3,6% dan 4,2%, pertama kali sejak Agustus tahun lalu.

Pasar saham AS tampaknya sangat dipengaruhi oleh beberapa pemikiran seperti bayangan resesi, saham teknologi, dan pemilu. Belum lama ini mayoritas analis memperkirakan resesi AS yang signifikan akan terjadi pada tahun 2023 atau 2024. Namun pada saat ini, pemikiran tersebut bergeser ke soft landing meski diskusi tentang resesi belum hilang sama sekali. Pergerakan indeks S&P 500 telah didorong oleh segelintir saham teknologi dengan kapitalisasi terbesar (sekitar 90% dari return pasar saham pada tahun 2023) dan tanpa sahamsaham tersebut indeks tersebut hampir tidak mungkin berada pada return yang positif. Agar dapat berlanjut berlanjut, rally ini harus diperluas untuk mencakup lebih dari sekadar saham dari perusahaan teknologi terbesar. Saham teknologi bisa saja termasuk mahal berdasarkan valuasi, tetapi sektor ini adalah sektor di mana investor dapat menemukan pertumbuhan jika ekonomi melambat. Selain itu, perusahaan teknologi berkapitalisasi besar tidak memerlukan bantuan pinjaman untuk mendanai bisnis mereka karena memiliki modal yang kuat, yang merupakan keuntungan besar bagi perusahaan tersebut. Terakhir, tahun terbaik dari empat tahun siklus kepresidenan AS biasanya adalah tahun ketiga, yaitu posisi AS pada tahun 2023. Oleh karena itu, menurut kami investor domestik harus menambah lebih banyak portofolio global dalam memanfaatkan situasi global saat ini.

More to Spend (Domestic Equity Market)

Pada Juni 2023, dua bank sentral mengubah suku bunga kebijakannya. Bank Sentral AS telah menghentikan kenaikan suku bunga setelah menaikkan 5% terus menerus sejak Maret 2022 di setiap pertemuannya. The Fed rate bertahan di 5,25%, sama dengan bulan sebelumnya di bulan Mei 2023. Sementara itu, China Central Bank, PBOC, memangkas 10 bps the loand prime rate 1 tahun dan 5 tahun masing-masing menjadi 3,6% dan 4,2%, untuk pertama kalinya sejak Agustus tahun lalu. Perubahan moneter dari dua negara besar terjadi karena perkembangan situasi ekonomi di negaranya masing - masing. Perekonomian AS mungkin sedang menuju soft landing dengan bayang-bayang resesi, sementara perekonomian China membutuhkan lebih banyak stimulus untuk menghangatkan mesin pertumbuhan yang masih berjalan lebih pelan dari yang diperkirakan sebelumnya. Dari perspektif global, kami melihat kebijakan moneter memberikan ruang bagi perekonomian untuk tetap gesit. Begitu juga dengan Bank Indonesia yang menahan suku bunga kebijakan sebesar 5,75% sejak Januari 2023 agar ekonomi dapat terus menggeliat.

Perekonomian domestik kembali berjalan baik di bulan Juni 2023 dengan PMI Manufaktur yang kuat di 52,5 (vs 50,3 di bulan Mei 2023) dan penurunan inflasi ke 3,5% (vs 4% di bulan Mei 2023). Inflasi Juni 2023 merupakan yang terendah dalam 14 bulan terakhir dan berada dalam target BI sebesar 3% ± 1%. Anggaran fiskal 5M23 tercatat surplus sebesar Rp 204,3 triliun atau 0,97% dari PDB (vs 5M22 sebesar Rp 132,0 triliun atau 0,67% dari PDB). Penerimaan negara sampai bulan Mei 2023 sudah mencapai 49% dari target anggaran 2023, sedangkan belanja negara hanya 33%. Sehingga, masih ada 2/3 dari APBN 2023 yang bisa dikucurkan untuk perekonomian di semester kedua. Meskipun defisit anggaran kemungkinan akan lebih rendah dari target (-2,8% dari PDB) dimana artinya belanja negara akan lebih rendah dari rencananya, menurut kami pengeluaran tersebut tetap merupakan dorongan yang katalis positif bagi perekonomian, dan pada akhirnya ke saham. Kita mungkin melihat peningkatan margin keuntungan di sektor konsumen karena harga energi dan bahan baku yang terus menurun. Beberapa saham ritel juga mendapatkan perhatian karena penjualan selama hari libur nasional, liburan sekolah, dan ekspansi toko. Perlu lebih banyak perusahaan membukukan pendapatan yang lebih baik dan neraca yang kuat (selain sektor perbankan) agar IHSG dapat menembus 7.000.

Rekomendasi Produk

Produk
MGSED

Reksa Dana MGSED berinvestasi pada Efek Ekuitas Syariah Luar Negeri di dalam Daftar Efek Syariah.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.

MITRA

Reksa Dana MITRA berinvestasi pada saham domestik mayoritas saham Big Cap.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.

MICB

Reksa Dana Mandiri Investa Cerdas Bangsa berinvestasi mayoritas pada saham yang termasuk dalam indeks LQ45.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.

MANFIGA

Reksa Dana Indeks MANFIGA berinvestasi mayoritas pada saham yang terdapat di dalam Indeks FTSE Indonesia ESG.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.


Info Lebih Lanjut

Hubungi Mandiri Investasi - (021) 526 3505
Whatsapp Mandiri Investasi - 0816 86 0003
Email Mandiri Investasi - [email protected]
Mandiri Investasi - www.mandiri-investasi.co.id
Moinves - www.moinves.co.id


DISCLAIMER

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.