Safe-Haven (Global Equity Market)

Dua diskusi utama pada bulan Mei 2023 adalah jeda kenaikan Fed dan masalah plafon utang Pemerintah AS. The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada awal Mei 2023 menjadi 5,25%. Pasar melihat kemungkinan adanya jeda dalam kenaikan suku bunga pada pertemuan Juni 2023 dan bahkan mengharapkan adanya penurunan suku bunga pada 4Q23. Sebagian besar data ekonomi masih menunjukan perlunya kenaikan suku bunga acuan 0,25% pada pertemuan FOMC di Juni 2023. Namun, baik jeda maupun kenaikan Fed rate pada pertemuan bulan Juni 2023 mungkin tidak akan terlalu mengganggu pasar saham global seperti beberapa bulan yang lalu karena akhir dari kenaikan cepat atau lambat akan segera tiba. Pada isu fiskal AS, Mei 2023 diakhiri dengan the House of Representatives menyetujui undang-undang utang yang diharapkan pasar. Selain itu, saat ini semakin banyak investor melihat skenario ekonomi AS untuk soft landing lebih mungkin terjadi daripada hard landing atau resesi.

Permintaan teknologi AI yang meningkat pesat menjelaskan divergensi antara saham-saham AS secara dan saham teknologi berisiko rendah dan berkualitas tinggi seperti Microsoft, Alphabet, Apple, Amazon, Meta, dan Nvidia. Saham-saham teknologi ini mungkin juga mulai diperdagangkan layaknya seperti safe haven asset tradisional seperti US Treasuries dan dollar. Pada saat ini, investor domestik dapat secara bertahap menambahkan lebih banyak investasi pada portofolio global karena kedepannya ada lebih banyak ruang untuk perbaikan yang dapat diharapkan dari kinerja keuangan perusahaan.

Pull Back (Domestic Equity Market)

Isu global lebih banyak menarik perhatian investor daripada isu domestik pada bulan Mei 2023. Plafon utang AS dan jeda kenaikan Fed rate menjadi pembicaraan utama. Terkait kebijakan moneter, The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada awal Mei 2023 menjadi 5,25%. Pasar melihat the Fed rate akan jeda dalam menaikan suku bunga pada pertemuan Juni 2023 meskipun banyak data ekonomi masih memerlukan kenaikan suku bunga 0,25%. Pada isu fiskal AS, Mei 2023 diakhiri dengan the House of Representatives menyetujui undang-undang utang seperti yang diharapkan oleh investor. Selain itu, pemulihan ekonomi Tiongkok lebih lambat dari yang diperkirakan. PMI Manufacturing masih menjadi kekhawatir karena lebih lemah meskipun PMI service cukup kuat. Namun, ekspektasi terhadap ekonomi China sebagai penggerak ekonomi global masih ada, meski membutuhkan waktu yang lebih lama. Dari sisi domestik, belanja fiskal hingga April 2023 hanya mencapai 25% dari total anggaran full year 2023 sementara penerimaan fiskal mencapai 41% pada periode yang sama. Belanja Pemerintah bisa menjadi pendorong ekonomi domestik dalam beberapa bulan mendatang.

Indeks saham domestik mengalami koreksi pada Mei 2023 setelah mengalami rally pada dua bulan sebelumnya. Menurut kami hal ini adalah kombinasi dari risk-off karena masalah pagu utang serta rally di saham-saham teknologi besar karena pasar meyakini berakhirnya kebijakan kenaikan suku bunga di AS akan segera terjadi. Saham berkapitalisasi besar yang berkinerja baik seperti BBCA dan BBRI telah mencapai titik harga tertinggi sepanjang masa. Saham-saham konsumer juga menarik untuk dicermati karena peningkatan margin sedang terjadi saat ini. Saham-saham telekomunikasi memberikan perlindungan di saat pasar saham mengalami koreksi. Meski Mei tidak selalu memiliki kinerja negatif secara statistik, namun koreksi Mei 2023 memberikan peluang bagi investor untuk memiliki saham dengan valuasi murah.

Rekomendasi Produk

Produk
MGSED

Reksa Dana MGSED berinvestasi pada Efek Ekuitas Syariah Luar Negeri di dalam Daftar Efek Syariah.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.

MITRA

Reksa Dana MITRA berinvestasi pada saham domestik mayoritas saham Big Cap.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.

MICB

Reksa Dana Mandiri Investa Cerdas Bangsa berinvestasi mayoritas pada saham yang termasuk dalam indeks LQ45.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.

MANFIGA

Reksa Dana Indeks MANFIGA berinvestasi mayoritas pada saham yang terdapat di dalam Indeks FTSE Indonesia ESG.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.


Info Lebih Lanjut

Hubungi Mandiri Investasi - (021) 526 3505
Whatsapp Mandiri Investasi - 0816 86 0003
Email Mandiri Investasi - [email protected]
Mandiri Investasi - www.mandiri-investasi.co.id
Moinves - www.moinves.co.id


DISCLAIMER

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.