Last Mile (Global Equity Market)

November menjadi bulan yang baik bagi sebagian besar kelas aset karena bank sentral utama seperti The Fed dan ECB menahan kenaikan suku bunga dan kondisi ekonomi global secara umum bergerak ke arah yang diharapkan. Saat ini inflasi turun dengan cepat. Setelah 18 bulan mengalami pertumbuhan harga yang memberatkan ekonomi, data pada musim gugur di AS dan Eropa lebih baik dari perkiraan. Faktor pendorong utama penurunan inflasi tahun ini adalah berkurangnya tekanan harga eksternal. Bank sentral telah berulang kali mengatakan last mile (tantangan terakhir dalam meredakan inflasi), yang melibatkan pengendalian pertumbuhan harga barang dan jasa, akan lebih sulit. Meskipun demikian, inflasi inti baru-baru ini sudah mulai membaik. Tanda-tanda semakin meredupnya aktivitas ekonomi terjadi di US dan Eropa. Hal ini akan memperkuat alasan untuk mulai menurunkan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan. Namun, masih terlalu awal untuk menyatakan misi telah tercapai. Para pengambil kebijakan perlu mencermati pergerakan inflasi inti dengan memperhatikan dinamika jangka menengah seperti perubahan demografi, revolusi AI, dan pergeseran geopolitik yang dapat ikut mempengaruhi harga.

Kami berpendapat saham global telah berkinerja baik pada bulan November 2023 dengan adanya berita terkini dari bank sentral. Satu ketidakpastian hampir hilang, namun ketidakpastian lainnya akan segera datang, yaitu seberapa dalam perekonomian global akan mengalami pelemahan. Dan, jika terjadi perlambatan ekonomi secara tiba-tiba, saham kemungkinan akan mengalami koreksi sebelum bank sentral mengubah arah moneternya. Oleh karena itu, menurut kami investor harus lebih berhati-hati dalam berinvestasi pada saham global setelah rally besar-besaran pada November 2023.

Restrain consumption (Domestic Equity Market)

Setelah koreksi mendalam pada bulan Oktober 2023, investor global menyambut baik kondisi pasar yang lebih baik pada bulan November 2023. Bank sentral utama menahan kenaikan suku bunga dan, secara umum, kondisi ekonomi global bergerak ke arah yang diharapkan. Bank sentral telah berulang kali mengatakan last mile (tantangan terakhir dalam meredakan inflasi), yang melibatkan pengendalian pertumbuhan harga barang dan jasa, akan lebih sulit. Meskipun demikian, inflasi inti baru-baru ini sudah mulai membaik. Tanda-tanda semakin meredupnya aktivitas ekonomi di AS, Eropa, dan Inggris. Hal ini akan memperkuat alasan untuk mulai menurunkan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan. Namun, masih terlalu dini untuk menyatakan misi telah tercapai. Para pengambil kebijakan perlu mencermati pergerakan inflasi inti dengan memperhatikan dinamika jangka menengah seperti perubahan demografi, revolusi AI, dan pergeseran geopolitik yang dapat ikut mempengaruhi harga.

Perekonomian dalam negeri masih berusaha bertahan meski indeks kepercayaan konsumen menurun. Jika dilihat dari indeks pendapatan, alokasi konsumsi meningkat pada September 2023 namun kembali normal pada Oktober 2023. Konsumen kelas menengah ke atas masih menunda konsumsi yang mungkin terkait dengan meningkatnya ketidakpastian makro. Oleh karena itu, menurut kami peningkatan konsumsi adalah dengan mengorbankan penurunan komposisi tabungan. Dalam hal ini, kami berharap pemerintah mempercepat belanja sosial menjelang akhir tahun ini sehingga mampu meningkatkan daya beli. Meskipun demikian, kami masih yakin dana global akan mengalir lebih banyak ke saham Indonesia karena alasan fundamental yang terus membaik. Ketika perekonomian global melambat, diversifikasi ke pasar yang lebih luas seperti Indonesia akan menjadi salah satu pilihan.

Rekomendasi Produk

Produk
MGSED A

Reksa Dana MGSED berinvestasi pada Efek Ekuitas Syariah Luar Negeri di dalam Daftar Efek Syariah.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.

MITRA A

Reksa Dana MITRA berinvestasi pada saham domestik mayoritas saham Big Cap.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.

MICB A

Reksa Dana Mandiri Investa Cerdas Bangsa berinvestasi mayoritas pada saham yang termasuk dalam indeks LQ45.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.

FTSEESG A

Reksa Dana Indeks FTSEESG berinvestasi mayoritas pada saham yang terdapat di dalam Indeks FTSE Indonesia ESG.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.

XMLF

Reksa Dana ETF Mandiri ETF LQ45 berinvestasi pada saham-saham blue chip yang terdapat di dalam Indeks LQ45.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.


Info Lebih Lanjut

Hubungi Mandiri Investasi - (021) 526 3505
Whatsapp Mandiri Investasi - 0816 86 0003
Email Mandiri Investasi - [email protected]
Mandiri Investasi - www.mandiri-investasi.co.id
Moinves - www.moinves.co.id


DISCLAIMER

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.