Soaring Rates (Global Equity Market)

The Fed melanjutkan kenaikan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 75 bps pada September 2022 karena inflasi AS masih tetap tinggi. Kenaikan di bulan September membawa suku bunga acuan FFR berada pada kisaran antara 3 – 3,25%, jauh lebih tinggi bila dibandingkan pada awal tahun suku bunga acuan tersebut mendekati nol. Namun, The Fed mengisyaratkan bahwa kenaikan ini masih jauh dari akhir pengetatan kebijakan moneternya. Pasar memperkirakan FFR akan naik ke kisaran 4-5%, tertinggi sejak krisis keuangan 2008 – 2009.

Dengan tingginya suku bunga acuan FFR yang saat ini ada serta masih akan terus naik, maka tidak diragukan lagi bahwa Dolar AS terus menguat dibandingkan dengan mata uang lainnya. Pada saat yang sama, para ekonom juga memprediksi resesi AS akan terjadi pada paruh pertama tahun 2023 dan akan berlangsung selama dua atau tiga kuartal.

Pengetatan kebijakan moneter yang kuat tidak hanya terjadi di AS tetapi juga dilakukan oleh banyak bank sentral di seluruh dunia. Oleh karena itu, valuasi saham harus menyesuaikan dengan kebijakan moneter hawkish yang menyebabkan aksi jual di bulan September. Situasi saat ini telah membawa saham global kembali ke posisi terendah sebelumnya pada bulan Juni 2022. Kami melihat bahwa kenaikan suku bunga saat ini sudah setengah perjalanan dan kondisi ini dapat digunakan untuk mulai menyusun proporsi portofolio global milik para investor.

Enduring Tailwind (Domestic Equity Market)

Koreksi di pasar ekuitas global terus berlanjut akibat pengetatan kebijakan moneter di seluruh dunia. The Fed menaikkan Fed Fund Rate (FFR) sebesar 75 bps lagi pada September 2022 yang membawa suku bunga acuan ke kisaran 3 – 3,25%. The Fed mengisyaratkan bahwa kenaikan di bulan September tidak akan menjadi yang terakhir dari proses pengetatan kebijakan moneter akibat tingginya inflasi. Pasar memperkirakan FFR akan naik ke kisaran 4-5%, tertinggi sejak krisis keuangan 2008 – 2009. Selain the Fed, sebagian besar bank sentral negara lain menaikkan suku bunga acuan secara paksa pada September 2022, termasuk Bank Indonesia. BI menaikkan 7D RRR sebesar 50 bps dan di luar ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan akan naik hanya 25 bps. Suku bunga acuan domestik sekarang meningkat menjadi 4,25% dan kami pikir itu akan terus meningkat. Kebijakan moneter diperketat dilakukan oleh Bank Indonesia untuk menjaga daya tarik Rupiah. Sebab, meski masih surplus saat ini, namun ke depan Indonesia berpotensi akan mengalami neraca perdagangan surplus yang menyempit atau bahkan defisit karena ekonomi domestik yang terus berkembang sementara ekonomi global yang kian melambat. Selain itu, harga BBM bersubsidi baru saja dinaikkan pada bulan September, sehingga inflasi domestik akan naik lebih tinggi. Pemerintah terus memberikan bantuan kepada masyarakat berpenghasilan rendah dalam upaya mempertahankan konsumsi, sehingga subsidi negara dapat lebih tepat sasaran dan adil.

Biaya energi tinggi masih merupakan tantangan bagi perekonomian secara luas, pada saat yang sama membawa keuntungan bagi pasar saham. Seperti pasar saham lainnya, koreksi saham dalam negeri terjadi pada September setelah rally pada bulan sebelumnya. Namun, menurut kami koreksi tersebut hanya bersifat sementara dimana menurut kami ekonomi Indonesia tumbuh stabil dan berada pada posisi yang lebih baik dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Meski valuasi saham global relatif lebih murah, namun valuasi saham Indonesia masih menarik karena laba bersih tumbuh cukup baik. Banyak sektor dalam perekonomian yang baru saja akan berkembang terutama industri jasa seperti perjalanan liburan, kesehatan, pendidikan, dll. Hal tersebut akan membuka lebih banyak lapangan kerja dan meningkatkan permintaan barang dan jasa. Kami menyarankan investor kembali masuk ke produk saham terutama saat kita mendekati kuartal terakhir tahun 2022. Kuartal keempat bisa menjadi kuartal yang kuat untuk menutup tahun yang luar biasa bagi Indonesia.

Rekomendasi Produk

Produk
MGSED

Reksa Dana MGSED berinvestasi pada Efek Ekuitas Syariah Luar Negeri di dalam Daftar Efek Syariah.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.

MITRA

Reksa Dana MITRA berinvestasi pada saham domestik mayoritas saham Big Cap.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.

MICB

Reksa Dana Mandiri Investa Cerdas Bangsa berinvestasi mayoritas pada saham yang termasuk dalam indeks LQ45.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.

MANFIGA

Reksa Dana Indeks MANFIGA berinvestasi mayoritas pada saham yang terdapat di dalam Indeks FTSE Indonesia ESG.
Dengan segmen Jangka Panjang, dan dikategorikan berisiko tinggi. Investor memiliki risiko atas portofolio saham tersebut.


Info Lebih Lanjut

Hubungi Mandiri Investasi - (021) 526 3505
Whatsapp Mandiri Investasi - 0816 86 0003
Email Mandiri Investasi - [email protected]
Mandiri Investasi - www.mandiri-investasi.co.id
Moinves - www.moinves.co.id


DISCLAIMER

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.