Pada semester pertama tahun ini pasar global mengkhawatirkan perekonomian dunia akan masuk ke resesi di tahun 2023 ketika kenaikan suku bunga di berbagai negara terutama AS bergerak dengan agresif untuk mengatasi inflasi. Namun pada bulan Juli 2023 kekhawatiran tersebut mereda karena tingkat tenaga kerja masih baik dengan inflasi yang terus menurun serta aktifitas perekonomian yang terlihat cukup baik sehingga perkiraan resesi bergeser ke soft landing. Soft landing memiliki makna peralihan ekonomi yang dari kondisi pertumbuhan ekonomi tinggi menjadi lebih stabil tanpa mengalami penurunan tajam atau resesi. Kondisi ini tentu menguntungkan Indonesia yang perekonomian telah berubah secara struktural sebagai salah satu negara yang mampu konsisten bertumbuh.

Overview

Juli 2023 The Fed kembali menaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,25% - 5,50% setelah sempat berhenti kenaikannya di bulan Juni. Bank sentral tersebut melihat penting untuk menjaga usaha dalam mencapai target inflasi dan tingkat ketenagakerjaan serta bersiap dalam menyesuaikan kebijakan jika diperlukan. Penyesuaian kebijakan yang dimaksud adalah jika riesiko menguatnya inflasi seiring membaiknya kondisi perekonomian AS, maka kebijakan pengetatan ekonomi akan terus berlanjut atau higher for longer.

IMF menerbitkan proyeksi pertumbuhan ekonomi terbaru di Juli 2023 dengan merevisi sedikit dari angka di bulan April 2023. Pertumbuhan ekonomi dunia di 2023 diproyeksi menjadi 3,0% YoY, naik 0,2% dari proyeksi sebelumnya, dan 2024 tetap berada pada 3,0% YoY. Perubahan tersebut terdorong oleh ekonomi AS yang naik menjadi 1,8% YoY dan lebih baik 0,2% dari perkiraan sebelumnya serta tidak mengindikasikan adanya resesi. Wilayah Eropa (kecuali Jerman), UK, Jepang dan Canada juga menunjukan adanya kenaikan proyeksi di tahun 2023. Sementara ekonomi negara berkembang (EM) bertumbuh 5,3% YoY di 2023 naik 0,1% yang terdorong oleh perubahan proyeksi di negara seperti India, Brasil dan ASEAN. Untuk ekonomi ASEAN akan bertumbuh 4,6% YoY di 2023, membaik naik 0,1% dari perkiraan sebelumnya. Indonesia sendiri berada tetap di 5,0% YoY pada 2023, sama seperti perkiraan sebelumnya.

Pelajar Indonesia menyambut liburan sekaligus tahun ajaran baru di bulan Juli 2023. Aktifitas pembelian terlihat cukup bergairah dengan berlangsungnya diskon belanja dan atraksi di berbagai pusat pembelanjaan. Berikut data makro ekonomi selama bulan Juli 2023.

Topic of discussion

  • Inflasi menurun.
  • PMI Manufacturing naik dan IKK turun.
  • Ekspor sedikit naik.
  • Bank Indonesia memperkuat kebijakan nilai tukar Rupiah.
  • Penjualan kendaraan sedikit menurun.
  • Analisa kondisi makro ekonomi dan pasar modal.
  • Kesimpulan dan Rekomendasi.

Rekomendasi Produk

Saham

Saham Global

Index

  • FTSE Indonesia ESG
    Saham domestik, Denominasi Rupiah, Berorientasi ESG, dan Pengelolaan pasif
  • ETF LQ45
    Tracking error rendah, Transaksi jual/beli dapat di lakukan setiap saat, dan Nilai transaksi real time

Pendapatan Tetap

Produk 3M Performance YTD Performance
Saham
MICB +3,3% +6,8%
ASEAN5 +1,9% +5,4%
Saham Global
MGSED +1,2% +14,9%
Index
FTSE +1,3% +2,2%
XMLF +2,4% -
Pendapatan Tetap
MIDU +0,37% +2,58%
IDAMAN -1,04% -0,01%

*Data diatas adalah data per tanggal 30 Agustus 2023

Untuk membaca hal-hal yang terjadi di bulan Juli 2023 yang mempengaruhi ekonomi secara makro selengkapnya disini:

Baca Selengkapnya

Info Lebih Lanjut

Hubungi Mandiri Investasi - (021) 526 3505
Whatsapp Mandiri Investasi - 0816 86 0003
Email Mandiri Investasi - [email protected]
Mandiri Investasi - www.mandiri-investasi.co.id
Moinves - www.moinves.co.id


DISCLAIMER

Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.