Highlight  ‌

Indeks IHSG memulai minggu pertama pada kuartal keempat dengan penurunan 0,7% wow dan indeks LQ45 dengan penurunan 0,6% wow. Penurunan saham disebabkan oleh kenaikan yield dari obligasi AS yang drastis dari 4.57% di minggu sebelumnya menjadi 4.80% atau sebesar 22 bps dalam seminggu. Dengan demikian yield dari IndoGb ikut terdorong melewati 7%. Jika dibandingkan dengan awal tahun yang berada pada 6.93% maka sebenarnya yield dari IndoGb belum melemah banyak.

Data PMI Manufacturing AS di September menguat baik menurut ISM di 49 (vs 47.6 sebelumnya) maupun S&P di 49.8 (vs 47.9 sebelumnya). Sementara PMI service AS di bulan September 2023 masih baik, ISM 53.6 (vs 54.5 sebelumnya) dan S&P di 50.1 (vs. 50.5 sebelumnya). Jumlah lowongan kerja AS terakhir di Agustus 2023 tercatat naik banyak 9.61 juta dibandingkan Juli 2023 di 8.92 juta. Tingkat pengangguran AS berada pada 3.8% pada September sama seperti bulan Agustus, namun Non-Farm Payrolls terjadi kenaikan yang signifikan menjadi 336 ribu dari bulan sebelumnya 227 ribu atau perkiraan pasar 170 ribu. Tingkat pengangguran Uni Eropa 6,4% di Agustus 2023 (vs 6,5% di Juli 2023).

Indonesia mencatatkan inflasi yang rendah di 2.28% yoy pada September 2023, lebih rendah dari 3.27% yoy di bulan Agustus 2023. Inflasi inti turun ke 2% yoy, melemah dari 2.18% di bulan sebelumnya. Kemudian PMI Manufacturing Indonesia di September 2023 masih ekspansif di 52,3, meski turun dari 53,9 di bulan sebelumnya. Cadangan devisa Indonesia berada pada level kuat di USD 134.9 miliar di September 2023, turun dari bulan sebelumnya USD 137.1 miliar.

Picture of the week

Pada minggu lalu, nilai tukar mata uang negara berkembang mengalami tekanan besar terhadap mata uang AS. Hal tersebut terjadi karena data ekonomi AS terlihat membaik. Hal tersebut semakin meyakinkan pasar bahwa bank sentral AS akan memperpanjang periode suku bunga tinggi. Jika kita melihat pegerakan nilai tukar Rupiah sejak awal tahun, mata uang Indonesia hanya mengalami depresiasi kecil 0.4% ytd (Pic 1), tidak jauh berbeda dengan Rupee India.

Sementara jika kita membandingkan dari 6 bulan lalu (Pic 2), nilai tukar Rupiah juga tidak terlalu buruk dibandingkan negara berkembang lainnya yang terdepresiasi 4.5%. Saat ini Rupiah berada pada kisaran Rp 15.600 per USD dan pernah berada pada titik terkuat Rp 14.650 per USD di bulan Mei 2023. Menurut kami grafik US DXY telah turun dari puncak tertitinggi tahun ini 107 menjadi 106. Kami perkirakan jika terus menurun, nilai tukar Rupiah akan menguat apalagi saat ini inflasi berada pada titik paling rendah. Reksa Dana saham seperti RD MICB, RD Indeks FTSE ESG and ETF XMLF menjadi produk yang dapat kembali memberikan return positif dari koreksi minggu lalu jika terjadi rebound di pasar saham.

Important Date

  • Mon, 11 October 23'
    ID: Consumer confidence Sep23.
  • Wed, 13 October 23'
    US: PPI Sep23
  • Thu, 14 October 23'
    US: FOMC minutes, Inflation Sep23
  • Fri, 15 October 23'
    CN: Inflation Sep23

PRODUK 3M PERFORMANCE YTD PERFORMANCE
JCI +1.9% +0.6%
LQ45 -1.0% +1.0%
Saham
MITRA -2.0% +4.5%
MICB -1.4% +4.7%
ASEAN5 -2.8% +2.1%
MGSED -4.3% +10.6%
Index
FTSE -2.2% +2.4%
ETF
XMLF -1.2% -
Pendapatan Tetap
MIDU -1.20% +1.60%
MINION -4.62% -5.64%
MIDO2 -3.41% +2.07%
IDAMAN -2.46% -1.96%

Info Lebih Lanjut

Hubungi Mandiri Investasi - (021) 526 3505
‌Whatsapp Mandiri Investasi - 0816 86 0003‌
‌Email Mandiri Investasi - cs@mandiri-investasi.co.id‌
‌Mandiri Investasi - www.mandiri-investasi.co.id
‌Moinves - www.moinves.co.id


DISCLAIMER

‌Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana