Highlight  ‌

Memasuki bulan Desember, pergerakan saham belum berubah banyak. IHSG bergeser turun 34 poin dalam seminggu namun tetap pada teritori 7.000. Indeks LQ45 turun 12 poin dalam seminggu menjadi 989. Berbeda halnya dengan kelas asset obligasi, dimana INDOGB yield yang terus menguat menjadi 6,84% dari seminggu sebelumnya di 6,94%. Pencapaian terbesar terjadi pada nilai tukar yang menguat besar dari Rp 15,670/USD menjadi Rp15,425/USD dalam seminggu.

US jobs opening (JOLTS) turun menjadi 10,3 juta di Oktober dari 10,6 juta di September. Tingkat pengangguran AS tetap bertahan di 3,7% di bulan November (vs 3,7% di Oktober) dan Non-farm payrolls bertambah 263 ribu di November (vs 200 ribu yang diperkirakan). ISM manufacturing AS turun menjadi 49 di November dari sebelumnya 50,2 di Oktober.

Sementara dari Eropa, tingkat pengangguran turun tipis ke 6,5% di Oktober (vs 6,6% di September). PPI Eropa di Oktober melemah ke 30,8% di Oktober (vs 41,9% di September). China mencatatkan PMI manufacturing November di 49,4, tidak terlalu jauh dari bulan sebelumnya 49,2.

Indonesia mencatatkan PMI manufacturing 50,3 di November (vs 51,8 di Oktober). Inflasi Indonesia di November turun menjadi 5,4% yoy dari 5,7% yoy di Oktober. Inflasi inti bertahan di 3,3% pada November, sama seperti bulan sebelumnya.

Picture of the week‌

Inflasi global sepertinya telah menyentuh titik puncak dan diprediksi akan melambat kedepannya. Indeks harga input baik di manufaktur maupun service mengalami penurunan sehingga harga output juga mengalami penurunan (Pic 1). Pabrik - pabrik melaporkan turunnya tekanan harga barang mentah dan harga input lainnya yang terjadi di Jepang, Inggris, Perancis, AS, Kanada Jerman dan Itali (Pic 2). Narasi pasar global saat ini adalah pengetatan kebijakan moneter kemungkinan dapat berada pada tingkat yang lebih kecil dari sebelumnya dalam memerangi inflasi global yang terlalu tinggi. Bila melihat kondisi harga yang dapat menurun, perusahaan dapat menghasilkan profit marjin yang meningkat. Selain itu, jika pergerakan suku bunga acuan sudah terbatas, analis dapat menggunakan discount rate yang lebih terukur sehingga valuasi saham menjadi menarik. Kami masih tetap merekomendasikan Reksa Dana saham pada saat ini seperti RD MICB dan RD MITRA sebagai pilihan menjelang akhir tahun.

Important Date

  • Wed, 07 DEC22 ID: Forex Reserve Nov22
  • Thu, 08 DEC22 ID: Consumer confidence Index Nov22
  • Fri, 09 DEC22 CN: Inflation rate Nov22
  • Fri, 09 DEC22 US: PPI Nov22

Produk 6M Performance YTD Performance
JCI -1,8% +6,7%
LQ45 -4,8% +6,2%
Saham
MITRA +0,8% +8,4%
MICB -1,1% +9,7%
ASEAN5 -1,0% +3,1%
MGSED -1,7% -29,2%
Pendapatan Tetap
MIDU +1,24% +1,32%
MINION +4,57% -5,18%
MIDO2 +3,73% +1,41%
IDAMAN -0,51% -6,99%

Info Lebih Lanjut

Hubungi Mandiri Investasi - (021) 526 3505
‌Whatsapp Mandiri Investasi - 0816 86 0003‌
‌Email Mandiri Investasi - cs@mandiri-investasi.co.id‌
‌Mandiri Investasi - www.mandiri-investasi.co.id
‌Moinves - www.moinves.co.id


DISCLAIMER

‌Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.