Highlight  ‌

IHSG masih kokoh dimana indeks global mengalami penurunan dalam satu minggu terakhir. IHSG naik 0.6% menjadi 7.177 dan  LQ45 +0,5% menjadi 1.019 dalam sepekan. RD MITRA tumbuh 1,05% dan RD MICB 1,24% dalam sepekan, jauh melebihi benchmark dari masing – masing funds.

Selain itu, yield dari INDOGB 10 tahun bergeser naik 7bps dalam sepekan menjadi 7,14%, relatif kecil dibandingkan yield UST 10 tahun yang naik 17bps. RD MIDU bertahan cukup baik meski terjadi kenaikan yield dalam satu minggu.

ISM Manufacturing US tercatat bertahan di 52,8 pada Aug22, sama seperti bulan sebelumnya. Tingkat pengangguran US akhirnya terjadi kenaikan 0,2% menjadi 3,7% pada Aug22, dimana ini merupakan kenaikan pertama kali dalam 6 bulan terakhir. Non-farm payroll turun menjadi 315 ribu di bulan Aug22 dari sebelumnya 516 ribu.

Caixin PMI manufacturing China turun menjadi 49,5 di Aug22 dari sebelumnya 50,4. Tingkat pengangguran Eropa menurun 0,1% menjadi 6,6% di Aug22. GDP India pada kuartal kedua 2022 mengalami lonjakan 13,5% yoy, meskipun jauh melampaui kuartal sebelumnya di 4,1% yoy namun tidak mencapai harapan konsensus di 15,2% yoy.

PMI Manufacturing Indonesia pada Aug22 menjadi 51,7 dari 51,3 pada bulan sebelumnya. Indonesia mencatatkan inflasi yang lebih rendah menjadi 4,69% yoy di bulan Aug22 dari sebelumnya 4,94% yoy. Berbeda dengan halnya inflasi inti yang naik menjadi 3,04% yoy di Aug22 dari 2,86% yoy pada bulan sebelumnya.

Picture of the week‌

Pemerintah akhirnya menaikan harga bahan bakar pada akhir pekan lalu. Hal tersebut dilakukan karena bila tidak subsidi energi pemerintah dapat melambung menjadi Rp 698 triliun dari yang telah direncanakan untuk tahun ini sebesar Rp 502 triliun (~+40%). Selain itu, permasalahan terbesar adalah subsidi tersebut salah sasaran dan diberikan bukan kepada pihak yang sangat membutuhkan. Jika perhatikan subsidi energi yang diberikan saat ini pada diesel, Pertalite, Pertamax dan LPG (Pic 1) , hanya sebagian kecil dari kelas bawah yang mendapatkan bantuan. Tentu kenaikan ini akan berdampak pada inflasi domestik kedepannya. Namun kami melihat pemerintah telah mempersiapkan dana bantuan langsung tunai yang lebih tepat sasaran. Menurut kami, kelas aset saham mungkin akan bereaksi negatif untuk sementara saja terhadap penyesuaian ini. Kami lebih meyakini bahwa kinerja fundamental perusahaan lebih bergantung pada penghasilan dan kesempatan lapangan kerja yang bertumbuh. Saat ini Indonesia sedang pada kondisi yang cukup kuat karena perekonomian sedang  pada momentum yang baik terlihat dari pertumbuhan kredit yang terus naik berkat masih rendahnya suku bunga pinjaman, harga komoditas yang lebih baik dari tahun sebelumnya dan semakin banyaknya sektor perekonomian yang kembali dibuka. Kenaikan harga energi bukan hanya terjadi di Indonesia dan terjadi di seluruh dunia. Maka dari itu, kami sarankan investor untuk membeli produk RD saham seperti RD MICB bila terjadi koreksi sementara di pasar saham.

Important Date

  • Wed, 07 SEP22 AU: GDP growth rate 2Q22
  • Wed, 07 SEP22 ID: Forex reserve Aug22
  • Thu, 08 SEP22 ID: Consumer confidence Aug22
  • Thu, 08 SEP22 EU: ECB interest rate decision
  • Fri, 09 SEP22 CH: Inflation rate Aug22

Produk 6M Performance YTD Performance
JCI +4,5% +9,1%
LQ45 +4,3% +9,5%
Saham
MITRA +4,2% +6,7%
MICB +6,6% +9,4%
ASEAN5 +2,3% +3,0%
MGSED -18,2% -32,7%
Pendapatan Tetap
MIDU +0,09% +0,16%
MINION -5,83% -9,61%
MIDO2 -0,81% -0,56%
IDAMAN -3,74% -6,52%

Info Lebih Lanjut

Hubungi Mandiri Investasi - (021) 526 3505
‌Whatsapp Mandiri Investasi - 0816 86 0003‌
‌Email Mandiri Investasi - cs@mandiri-investasi.co.id‌
‌Mandiri Investasi - www.mandiri-investasi.co.id
‌Moinves - www.moinves.co.id


DISCLAIMER

‌Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.