Highlight  ‌

Dalam satu minggu, IHSG belum mengalami perubahan berarti dan masih mampu bertahan di level 7000. IHSG ditutup pada level 7,026, turun 14 poin (-0,2%) dari minggu sebelumnya. Namun indeks lainnya yaitu indeks LQ45 turun banyak yakni sebesar -1,2% (turun 12 poin) dalam sepekan menjadi 999. Pada sisi obligasi, yield dari INDOGB  kembali menguat dengan turun sebanyak 14 bps dalam sepekan menjadi 7,24%. Sementara nilai tukar Rupiah bertahan pada kisaran Rp 15,250/USD.

AS mencatatkan S&P PMI Manufacturing 52 pada bulan September, sedikit lebih tinggi dibandingkan 51,5 pada bulan Agustus. Selain itu, tingkat pengangguran AS kembali turun ke 3,5% pada September, lebih rendah dari 3,7% di bulan Agustus. Kemudian non-farm payroll tercatat 263 ribu di bulan September,  lebih kuar dari perkiraan konsensus 250 ribu. RBA Australia menaikan kembali suku bunga acuan 25 bps di bulan Oktober menjadi 2,6% (vs 50 bps di bulan September). Eropa kembali mencatatkan rekor PPI yang terus naik mencapai 43,3% yoy di bulan Agustus, dari 38% yoy di bulan sebelumnya.

Indonesia mencatatkan kenaikan PMI Manufacturing di bulan September pada level 53,7 dari level sebelumnya 51,7 di bulan Agustus. Inflasi Indonesia melompat ke 5,95% yoy pada bulan September, jauh lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya di 4,69% yoy. Inflasi inti ikut mengalami kenaikan dari 3.04% yoy di bulan Agustus menjadi 3,21% yoy di bulan September dan di bawah perkiraan consensus di 3,6%.  Indonesia mencatatkan cadangan devisa sebesar USD 130,8 milyar pada September, turun USD 1,4 milyar dari bulan Agustus di USD 132,2 milyar.

Picture of the week‌

Tingkat pengangguran di AS pada bulan September tercatat masih sangat kuat dengan hanya berada pada 3.5% yoy dari bulan sebelumnya 3,7% yoy (Pic 1). AS juga mencetak kenaikan PMI manufacturing dan service di bulan September yang masing – masing berada pada 52 (vs 51,5 Aug22) dan 49,3 (vs 43,7 Aug22) (Pic 2). Kedua indikator tersebut masih menunjukan kuatnya ekonomi AS. Kondisi tersebut tentu masih membawa benefit untuk perekonomian Indonesia dimana ekspor produk Indonesia diperkirakan masih akan baik. Pada awal kuartal keempat ini kami menyarankan investor untuk tetap masuk ke saham berkapitalisasi besar karena kami masih melihat kesempatan pada saham – saham di Indonesia untuk naik sampai penghujung akhir tahun. Reksa Dana saham seperti RD Mandiri Investa Cerda Bangsa (RD MICB) dan RD Mandiri Investa Atraktif (RD MITRA) dapat menjadi pilihan bagi investor dimana target akhir tahun Mandiri Investasi berada pada 7,400 – 7,600 (saat ini 7,026).

Important Date

  • Mon, 10 OCT22 ID: Consumer Confidence Sep22
  • Wed, 12 OCT22 US: PPI Sep22
  • Thu, 13 OCT22 US: FOMC Sep22, Inflation Sep22

Produk 6M Performance YTD Performance
JCI -1,4% +6,8%
LQ45 -3,2% +7,3%
Saham
MITRA -0,8% +5,9%
MICB -0,3% +8,0%
ASEAN5 -2,5% +1,6%
MGSED -19,9% -35,4%
Pendapatan Tetap
MIDU -0,13% -0,33%
MINION -7,19% -12,69%
MIDO2 -0,78% -1,57%
IDAMAN -5,07% -8,92%

Info Lebih Lanjut

Hubungi Mandiri Investasi - (021) 526 3505
‌Whatsapp Mandiri Investasi - 0816 86 0003‌
‌Email Mandiri Investasi - cs@mandiri-investasi.co.id‌
‌Mandiri Investasi - www.mandiri-investasi.co.id
‌Moinves - www.moinves.co.id


DISCLAIMER

‌Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.