Highlight  ‌

Setelah mengalami koreksi dalam sebelumnya, kelas aset saham, obligasi dan nilai tukar kembali bangkit. IHSG sempat tertekan dalam sebelum akhir rebound kuat selama dua hari terakhir menjadi 6.788 (0.4% wow). Indeks LQ45 naik 1,3% wow. Kenaikan pasar domestik diperkirakan masih akan terus berlanjut yang dipengaruhi oleh kinerja Indeks S&P 500 yang naik 5,9% wow dan Nasdaq 6.6% wow. Sama halnya dengan yield dari IndoGb turun 28 bps dalam seminggu menjadi 6,88%, mengikuti UST Yield yang menguat 27 bps menjadi 4,6%. Nilai tukar Rupiah menguat ke Rp 15,725 per USD (+1,3% wow). Terjadi rally di aset domestik karena perubahaan arah moneter AS (dan bank sentral lain) serta data ekonomi yang terus menurun seperti yang diharapkan.

Bank Sentral AS, The Fed, menahan policy rate di 5,25 – 5,50% pada pertemuan bulan November 2023. Demikian juga dengan Bank of Japan yang menahan policy rate di -0,1% serta Bank of England yang menahan di 5,25%.

Laporan tengara kerja AS mengalami pelemahan. Penambahan Non-Farm Payrolls berada pada tingkat yang rendah hanya 150 ribu di Oktober 2023, hampir setengahnya dari 297 ribu di September 2023. Tingkat pengangguran naik menjadi 3,9% di Oktober 2023, lebih buruk dari perkiraan dan bulan sebelumnya 3,8%.
JOLTs Job Openings naik ke 9,55 juta di Sep23 dari 9,49 juta di Aug23.

Data PMI Manufacturing di Oct23 terlihat melemah. China mencatatkan 49,5, turun dari sebelumnya 50,6. Sedangkan AS (S&P) naik tipis 50 dari 49,8 dan AS (ISM) turun menjadi 46,7 dari 49. Indonesia juga turun menjadi 51,5 dari 52,3.

Inflasi Indonesia di Oktober 2023 tercatat 2,56% yoy, naik dari 2,28% yoy. Inflasi inti turun ke 1,91% yoy dari sebelumnya 2% yoy.

Picture of the week

Penantian terhadap puncak suku bunga acuan dari Bank Sentral utama yaitu the Fed, ECB dan BoE sepertinya sudah terwujud. Bank Sentral tersebut tidak merubah policy rate mereka yang selama ini menjadi resep meredakan inflasi. The Fed menahan Fed rate di 5,50%, ECB rate tetap di 4.50% dan BoE rate bertahan di 5,25% (Pic 1).

Inflasi di berbagai negara telah menurun dan akan berlanjut di 2024 dan 2025 (Pic 2). Pasar tenaga kerja di tiga wilayah tersebut menunjukan pelemahan. Sehingga kemungkinan Bank Sentral utama akan mulai memangkas suku bunga acuan di 2024. Ekonomi dunia saat ini memang terjadi pelemahan namun sepertinya tidak akan mengarah ke resesi dalam. Dalam hal ini keputusan menahan suku bunga merupakan langkah tepat.

RD MGSED menjadi jawaban atas kondisi saat ini karena strategi portofolio saat ini melebarkan jumlah negara dan sektor agar mengurangi konsentrasi resiko. Kondisi global tentu akan ikut mempengaruhi saham domestik yang dapat bergerak lebih positif. Investor disarankan memiliki RD MICB, RD FTSE ESG dan ETF XMLF.

Important Date

  • Monday, 06 November 23'
    ID: GDP growth 3Q23. Tue, 07 Nov23
    ID: Forex reserves Oct23
  • Wednesday, 08 November 23'
    ID: Consumer Confidence Oct23
    US: The Fed chair’s speech
  • Thursday, 09 November 23'
    CN: Inflation rate Oct23

Produk 3M Performance YTD Performance
JCI -1.6% -0.9%
LQ45 -6.5% -3.5%
Saham
MITRA -7.9% -1.2%
MICB -6.6% -0.2%
ASEAN5 -8.8% -3.6%
MGSED -3.4% +12.3%
Indeks
FTSEESG -7.6% -1.8%
ETF
XMLF -6.8% -
Pendapatan Tetap
MIDU -0.95% +1.85%
MINION -0.55% -2.45%
MIDO2 -2.59% +2.80%
IDAMAN -1.18% -0.89%

*Data diatas adalah data per tanggal 6 November 2023


Info Lebih Lanjut

Hubungi Mandiri Investasi - (021) 526 3505
‌Whatsapp Mandiri Investasi - 0816 86 0003‌
‌Email Mandiri Investasi - cs@mandiri-investasi.co.id‌
‌Mandiri Investasi - www.mandiri-investasi.co.id
‌Moinves - www.moinves.co.id


DISCLAIMER

‌Pendapat yang diungkapkan dalam artikel adalah untuk tujuan informasi umum saja dan tidak dimaksudkan untuk memberikan saran atau rekomendasi khusus untuk individu atau produk keamanan atau investasi tertentu. Ini hanya dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang industri keuangan. Pandangan yang tercermin dalam konten dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Seluruh data kinerja dan return investasi yang tertera di artikel ini tidak dapat digunakan sebagai dasar jaminan perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana